Perlunya Edukasi Tanggulangi Anthrax

Dok. Pribadi

Beberapa waktu lalu, Daerah Istimewa Yogyakarta sempat dihebohkan dengan adanya informasi yang memberitakan tentang adanya kasus anthrax atau antraks yang terjadi di Kabupaten Kulonprogo. Bahkan, saking mudahnya akses informasi yang bisa diterima masyarakat, menyebabkan berita yang beredar menjadi tumpang tindih. Hal ini tentunya akan membuat berita hoax merajalela karena kurangnya sikap skeptis (tabayyun) dan edukasi terhadap masyarakat akan kasus ini. Sehingga dari informasi yang beredar justru membuat keruh suasana sehingga membuat masyarakat panik dan takut. Hal ini menadi unik, ketika ada beberapa oknum tak bertanggung jawab yang memberikan himbauan seperti melarang pergi ke daerah Godean dan  RS Sardjito, hingga menghimbau untuk tidak kembali ke Jogja terlebih dahulu karena Kulonprogo, Sleman, dan sekitarnya sudah terkena wabah Anthrax. Inilah yang kemudian membuat masyarakat takut berlebihan, fobia terhadap ternak dan makanan asal ternak, seolah menganggap penyakit ini sangat mematikan yang mempu menginfeksi kota seperti pada film-film zombie Hollywood umumnya.

Padahal, kasus anthrax yang terjadi di Kulonprogo ini bukan satu-satunya kasus anthrax yang terjadi di Indonesia. Keberadaan penyakit antraks di Indonesia telah diketahui sejak tahun 1832, pertama dilaporkan pada tahun 1884 di Teluk Betung Lampung dan penyebarannya sejak tahun 1930 sampai saat ini. Secara geografis penyakit ini pernah terjadi pada 22 dari 34 provinsi Indonesia (Adjid dan Sani, 2005). Hal ini sebelumnya juga sudah dijelaskan oleh Siregar (2002) dalam tulisannya yang berjudul “Antraks: Sejarah masa lalu dan situasi saat ini” yang menyebutkan jika Sumatera Barat, Jambi, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat sampai saat ini menjadi daerah endemik antraks, sehingga masih sering timbul kasus-kasus penyakit antraks. Sedangkan untuk provinsi Aceh, Riau, Bangka Belitung, Maluku utara, Maluku, Papua dan Papua Barat belum ada temuan kasus hingga tahun ini.

Anthrax merupakan penyakit enzootic, artinya penyakit yang terlokalisir. Sehingga penyakit ini akan ada pada daerah yang bersangkutan saja, di lokasi itu saja, dan berbeda seperti virus AI yang bisa mewabah dalam satu perkotaan. OIE (2000) menjelaskan, penyakit ini tetap enzootic di hampir semua negara di Afrika dan Asia, beberapa negara di Eropa, Australia, dan beberapa negara bagian Amerika. Hal ini kemudian akan membantah isu yang beredar tentang adanya persebaran anthrax yang bisa mewabah di suatu kota, seperti berita yang tersebar ke masyarakat beberapa waktu lalu. Memang spora dari anthrax yang kuat bisa menyebar hingga radius 60 KM, namun itu di daerah dengan kelembaban rendah, gersang, kecepatan angin yang tinggi dan tidak ada komponen yang mengganggu (ex: bangunan), seperti di padang savana atau kawasan hutan di afrika misalnya. Tapi bagaimana dengan lokasi seperti Yogyakarta? Tentu penyebaran tersebut akan sangat susah.

Anthrax merupakan penyakit bacterial dapat menyerang ternak ruminansia besar (sapi, kerbau, kambing dan domba) disebabkan oleh Bacillus anthracis pembentuk spora yang menular ke manusia (zoonosis) melalui kontak kulit, inhalasi (pernafasan) atau mengkonsumsi produk ternak yang terkontaminasi (OIE, 2000). Antraks disebut sebagai salah satu penyakit hewan menular strategis pada ruminansia besar, dikarenakan memiliki beberapa faktor pertimbangan seperti pertimbangan ekonomis karena dapat mengganggu produktivitas dan reproduktivitas ternak secara signifikan, dan mengakibatkan gangguan perdagangan. Kemudian pertimbangan politis karena meresahkan masyarakat, perlu prioritas pengendalian, dan umumnya penyakit dalam kelompok penyakit zoonosis. Serta pertimbangan strategis karena tingkat mortalitas tinggi, penyebaran atau penularan relatif cepat, antar daerah dan antar lintas batas, serta memerlukan pengaturan lalulintas ternak, atau produk ternak yang ketat.

Perlu dipahami juga jika spora antraks dapat terbentuk apabila bakteri kontak dengan udara atau oksigen. Sehingga spora ini sangat resisten dan dapat survive bertahun tahun di tanah, karena tahan terhadap perubahan lingkungan, sulit dimusnahkan pada suatu wilayah yang positif antraks, dengan penanganan kurang memadai sulit untuk penanggulanganya, sehingga perlu pemahaman interaksi sistem sosial dan sistem ekologi. Untuk kasus yang terjadi di Kulonprogo bisa dikatakan adalah efek dari ketidaktahuan masyarakat terhadap anthrax. Menurut penuturan dari BBIB Wates saat sosialisasi anthrax di Fakultas Peternakan UGM (25/1), tertularnya anthrax dari ternak ke belasan warga disebabkan karena belasan warga tersebut mengkonsumsi daging sapi yang sudah terkena anthrax setelah sebelumnya dibagikan oleh pemilik ternak karena mengetahui ternaknya yang psakitan. Anthrax akan berkembang pesat pada fase vegetatif, namun bakteri tersebut bisa mati apabila dipanaskan dalam suhu lebih dari 100 derajat celcius.

Bakteri anthrax pada fase vegetatif sangat mudah mati dan kalah berkompetisi dengan bakteri lainnya, dan juga sensitif terhadap berbagai antibiotik dan desinfektan. Anthrax akan memberikan efek pada tubuh apabila bakteri ini terhirup dengan jumlah lebih dari 10.000 bakteri. Disisi lain, manusia punya sistem pertahanan tubuh yang sangat baik bukan? Sehingga jika terjadi kontaminasi anthrax pada tubuh manusia melalui udara itu dengan kemungkinan yang sangat kecil.

Paling tidak, masyarakat megetahui adanya peluang terkena penyakit antraks, seperti peluang penularan penyakit antraks bernilai 99,4% dapat terjadi apabila jarak kandang yang terlalu dekat dengan rumah, kebersihan kandang yang kurang diperhatikan, saluran pembuangan air limbah yang tidak baik, dan vaksinasi ternak yang tidak dilakukan dengan baik, serta adanya riwayat makan daging dan jeroan. Pemahman akan gejala penyakit antraks pada ternak juga wajib jadi perhatian peternak seperti demam secara tiba-tiba, badan lemah dan gemetar, sesak napas, pembengkakan pada leher, serta sela put lendir mata merah, kemudian ternak mati mengeluarkan darah dari lubang hidung, mulut, telinga, anus, dan alat kelamin (Kurniawati et al., 2005)

Peternak harus menerapkan kerja yang hiegienis, salah satu upaya yang harus dilakukan oleh mereka yang kontak dengan ternak, baik dalam keadaan mati, apalagi ketika hidup. Pencegahan pada ternak terinfeksi antraks dapat dilakukan dengan pemusnahan ternak yang terinfeksi dan vaksinasi pada ternak yang sehat. Pada manusia kelompok beresiko tinggi disarankan untuk  menghindari kontak langsung dengan ternak terinfeksi antraks. Dan yang pasti, segera laporkan ke petugas peternakan jika ada ternak yang memiliki gejala penyakit antraks, laporkan ke petugas kesehatan apabila melihat ada keluarga, atau masyarakat sekitar mengindap gejala penyakit antraks. Keluarga, atau masyarakat tidak perlu resah berlebihan, kendati memang perlu waspada, dan mengikuti perkembangan yang ada.

Isu anthrax yang terjadi dan banyaknya berita hoax yang beredar di awal tahun ini paling tidak menjadi refleksi untuk kita untuk lebih meningkatkan edukasi kepada masyarakat tentang penyakit zoonosis khususnya anthrax. Paling tidak membuat masyarakat untuk sadar dan bersama menjaga kesehatan lingkungan dan pemeliharaan yang baik terhadap ternak dan tidak menelan dan menyebarkan informasi yang tidak benar. Hal ini akan semakin baik ketika didukung oleh praktisi peternakan dan pemerintah melakukan pendekatan secara mikro, dengan mewujudkan eksistensi keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat atau kelompok ternak, dengan memberikan sosialiasi dan pendidikan penanggulangan anthrax agar tidak menyebarluas dari satu wilayah ke wilayah lain. Disamping itu keselarasan keunggulan teknologi pengendalian antraks baik teknis, ekonomi dan sosial budaya juga harus mengambil peran lebih untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang sehat dan peka terhadap penyakit zoonosis.

Oleh:

Mahardika Agil Bimasono

Pusat Kajian Peternakan Nasional

Universitas Gadjah Mada

Referensi :

Adjid, R.M.A. dan Y. Sani. 2006. Ketersediaan teknologi veteriner dalam pengendalian penyakit strategis ruminansia besar. Workshop pengendalian penyakit strategis pada ruminansia besar dalam rangka mendukung program kecukupan daging 2010. Makalah presentasi.

OIE. 2000. Anthrax. In: Manual of standards diagnostic and vaccines, World Health Organization.

Kurniawati, Y., H. Kusnoputranto dan G.M. Simanjuntak. 2005. Dinamika Penularan dan Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Penyakit Anthrax pada Manusia di Wilayah Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Tahun 2004. Pros. Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis, Bogor, 15 September 2005. Puslitbang Peternakan.

Siregar, E.A. 2002. Antraks : Sejarah masa lalu, situasi pada saat ini, sejarah diagnosa dan kecenderungan perkembangan ilmu di masa depan. Simposium Sehari Penyakit Antraks : Antraks di Indonesia, masa lalu, masa kini dan masa depan. Balai Penelitian Veteriner, Bogor, 17 Juli 2002.

Wasito. 2010. Pengendalian Penyakit Antraks: Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan Keluarga serta Inovator dan Early Adoptern. Balai Pengkajian Teknologi Pertania  Sumatera Utara

Materi Sosialisasi Antraks yang disampaikan oleh Dr. Widagdo Sri Nugroho (FKH UGM), Dr. Indarto Sudarsono (BBVet Wates), dan Dr. Abu Tholib Aman Ph.D (FK UGM) di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada pada hari Rabu, 25 Januari 2016