Populasi vs Konsumsi Daging Babi. Kemana kah Larinya?

 


Sebuah data mengejutkan muncul di permukaan, mengenai populasi dan konsumsi daging babi di pulau-pulau besar Indonesia. Data ini muncul di salah satu rubrik majalah yang membahas peternakan dan kesehatan hewan. Walaupun kebenaran data ini masih diragukan, yang jelas hal ini memunculkan pertanyaan yang besar.

Konsumsi daging di Indonesia secara garis besar didominasi oleh daging berlabel Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH). Menurut Peraturan Pemerintah No.22 tahun 1983 tentang kesehatan masyarakat veteriner bahwa daging yang layak dikonsumsi harus memenuhi persyaratan ASUH. Terdapat kata “Halal” di dalam ASUH, mengindikasikan bahwa daging yang dikonsumsi haruslah sesuai syariat Islam, karena sebagian besar penduduk Indonesia adalah Islam. Daging yang masuk kategori ASUH adalah daging yang disembelih secara benar (melalui individu atau rumah potong hewan), layak konsumsi dan sesuai syariat Islam (Halal). Contoh daging ASUH adalah Sapi, Ayam, Kambing, Domba, Kelinci, dan ternak halal yang lain. Dari kebijakan tersebut masyarakat menerima apa yang dikehendaki pemerintah bahwa seharusnya tidak memakan yang tidak ASUH, dan tidak ada daging Babi masuk kategori tersebut.

Pada tabel tersebut, menerangkan populasi versus konsumsi daging Babi pada pulau-pulau besar di Indonesia. Jawa dengan angka populasi Babi terendah disbanding pulau lain, secara tak diduga menjadi konsumen tertinggi daging Babi. Angkanya pun cukup mengejutkan, dengan populasi 251.031 ekor mampu mengonsumsi 13.661.059 ekor/tahun. Data konsumsi daging babi yang dipakai bukan dalam bentuk ton atau kilogram, namun dalam ekor. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan tahun 2015 pun mengeluarkan data yang senada tentang populasi Babi. Misal di Jawa, di DKI Jakarta 0 ekor, Banten 32.807 ekor, Jawa Barat 6.895 ekor, Jawa Tengah 139.700 ekor, DIY 13.743 ekor dan JawaTimur 41.882 ekor yang berarti totalnya 235.027 ekor. Satu hal yang menarik, tidak ada satupun data tentang konsumsi babi di Indonesia. Parahnya lagi dari data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, sebagian besar pertumbuhan populasi menunjukkan angka positif, hanya tiga provinsi yang pertumbuhannya negatif, Jambi, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Tengah. Entah data ini benar atau tidak, yang jelas kita patut waspada. Kemanakah larinya?

Konsumsi daging babi tidak hanya dalam bentuk daging segar seperti yang terjual di pasar. Terdapat produk-produk turunan Babi yang tidak mudah terlacak. Seperti misalnya bacon, bakso, sosis, gelatin dan produk olahan lain. Kebijakan impor daging babi segar-pun belum ada regulasinya saat ini, namun impor produk-produk olahannya kemungkinan masih bisa terjadi selama regulasinya belum jelas. Dosen Fakultas Peternakan UGM, Yuny Erwanto, Ph.D, ikut angkat bicara soal ini. Menurut beliau, selama ini impor daging babi belum pernah dilakukan, kecuali produk turunan babi seperti bacon, sosis, dan gelatin. “Sebenarnya kalau produk turunan paling gampang dipalsukan, karena tidak mudah terlacak sebagaimana daging babi segar. Kalau daging segar kan jelas dari perbedaan bau, serat, dan warnanya. Kalau di produk bakso dan sosis itu adalah commute food, artinya sudah tercampur dari berbagai daging, tepung, dan bumbu sehingga sulit dibedakan secara manual.”, tambah Yuny Erwanto.

 

Bacon

Bacon adalah suatu olahan dari berbagai macam daging, bisa sapi, babi, kambing dan lainnya yang sudah melalui proses curing dan pengasapan. Di Indonesia bacon tidak sepopuler bakso atau sosis. Bacon dapat dijumpai pada restauran-restauran besar dan restaurant junkfood, biasanya untuk campuran burger.

 

Bakso

Bakso merupakan makanan paling populer di Indonesia. Penjual bakso sangat mudah ditemui di seluruh Indonesia, dari industry kecil sampai besar, dari pedadang keliling sampai kelas restauran. Banyaknya penjual bakso memunculkan masalah baru. Tidak adanya pendampingan yang rutin dari lembaga yang berwenang membuat penjual bakso lebih leluasa dalam menjual produk. Entah itu produk halal atau haram. Berita bakso sempat popular akibat banyaknya pedagang bakso yang mencampurnya dengan boraks dan formalin, belum lagi dengan campuran babi. Namun, masyarakat Indonesia sampai saat ini tidak menggubris dan tetap memilih bakso sebagai makanan paling digemari.

 

Sosis

Sosis adalah produk makanan yang diperoleh dari campuran daging halus (tidak kurang dari 75%) dengan tepung dan melalui penambahan bumbu-bumbu dan bahan tambahan makanan lain yang diizinkan dan dimasukan ke dalam selongsong sosis. Di Indonesia, sosis cukup popular namun tidak sepopuler bakso. Menurut Yuny Erwanto, yang sekarang juga menjabat sebagai Ketua Grup Riset Halal UGM ini menerangkan bahwa kemungkinan pencampuran sosis dengan daging babi lebih kecil karena produk sosis didominasi oleh perusahaan besar yang memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) perusahaan.  “Kemungkinan untuk tercampur lebih kecil disbanding bakso yang merupakan industry rumahan yang secara umum tidak mempunyai SOP, membeli dagingnya tidak terkontrol, ataukah di pasar A atau B, dengan sekaligus mempertimbangkan ekonomi yang murah.”, tambah beliau.

 

Gelatin

Gelatin merupakan produk alami yang diperoleh dari hidrolisis parsial protein kolagen. Bersifat sebagai gelling agent (bahan pembuat gel) atau sebagai non-gelling agent untuk bahan pangan seperti marshmallow, candy, jelly dan lain-lain. Namun, gelatin tidak terlalu dipermasalahkan karena kita 100% impor. “Gelatin biasanya kemungkinan impor, karena secara umum tidak ada pabrik gelatin di Indonesia. Seandainya ada gelatin di Indonesia, dipastikan itu gelatin bukan lokal.”, tambah Yuny Erwanto, yang pernah menjabat sebagai auditor Halal MUI DIY tahun 2004-2014.

Pemalsuan data, pedagang yang curang, dan kurangnya perhatian dari lembaga-lembaga yang berwenang membuat konsumsi daging babi tidak wajar. Data pun bias dan tidak jelas. Terlebih Indonesia adalah negara Islam yang menekankan produk halal. Tidak ada peraturan dari pemerintah tentang impor babi di Indonesia, namun dari produk-produk turunan tersebut mampu dipalsukan sehingga konsumsi babi melonjak dan tidak wajar, khususnya di Jawa. Jawa merupakan pulau dengan tingkat ekonomi paling tinggi disbanding lainnya, rawannya pemalsuan sangat mungkin terjadi. Entah data di atas benar atau tidak, yang pasti kita patut waspada. Kita adalah apa yang kita makan. 

BPPM GALLUSIA

Ditulis oleh :

Nirmala Maulana Achmad

BPPM Gallusia

Fakultas Peternakan UGM