Sembari Bimtek, Berwisata ke Embung Nglanggeran & Sumur Bribin II

Kegiatan Bimbingan Teknis Pengembangan Daerah Rawan Pangan yang diselenggarakan pada 31 Juli-3 Agustus 2016 di Yogyakarta tidak hanya diisi dengan pemberian materi oleh para pembicara. Peserta Bimtek yang merupakan perwakilan SKPD beberapa daerah rawan pangan juga melihat langsung upaya untuk mewujudkan daerah tangguh pangan. Di hari terakhir Bimtek, peserta diajak untuk mengunjungi Embung Nglanggeran dan sumur bawah tanah Bribin II di Kabupaten Gunung Kidul. Seluruh peserta tampak antusias mengunjungi Embung Nglanggeran dan sumur di Bribin meskipun perjalanan menuju lokasi berdurasi kurang lebih 2 jam dari pusat Kota Yogyakarta.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Embung Nglanggeran, yang juga merupakan Taman Teknologi Pertanian (TTP). TTP Nglanggeran dapat terwujud atas kerjasama yang baik antara Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, institusi pemerintahan dan stakeholder lainnya. Kawasan TTP Nglanggeran memiliki komoditas unggulan berupa kakao, kambing PE, padi, durian dan rambutan. Selain itu, pengelola juga terus berupaya untuk mengembangkan komoditas lainnya seperti Bunga Krisan, sayuran onfarm, dan sayuran hidroponik.

WhatsApp Image 2016-08-05 at 13.21.37

WhatsApp Image 2016-08-05 at 13.22.39

Embung Nglanggeran telah diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X sejak Februari 2013 dengan fungsi utama untuk irigasi bagi kebun buah dan sawah di sekitar embung. Embung terletak di dekat Gunung Api Purba Nglanggeran, tepatnya di ketinggian tempat sekitar 300-500 m dpl, kemiringan <40%. Letaknya yang berada di ketinggain  serta pemandangan sekitar yang indah membuat TTP Nglanggeran menjadi salah satu objek wisata baru di wilayah DIY.

Rombongan peserta Bimtek yang hadir diajak untuk melihat langsung embung seluas 5.000 m2 dan berdiskusi mengenai masterplan serta proses pembangunan embung bersama pemandu. Dalam kesempatan yang sama, Drs. Supriadi, M.Si. yang mendampingi peserta menekankan bahwa sinergi antar lembaga pemerintah merupakan salah satu kunci mewujudkan daerah tangguh pangan.

Selesai mengamati langsung kondisi Embung Nglanggeran, peserta Bimtek meneruskan perjalanan menuju bendungan sungai bawah tanah yang berlokasi di Desa Bribin II. Gunung Kidul merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di pegunungan kapur, dan menyebabkan wilayah Gunung Kidul sering mengalami kekeringan air.

Sumur Bribin II merupakan proyek Kementerian Pekerjaan Umum yang mulai dirintis sejak tahun 2004 dan diresmikan pada Maret 2010. Pembangunan instalasi air baku Bendung Sungai Bawah Tanah (BSBT) Bribin II menelan biaya sebesar Rp 35 milyar yang bersumber dari APBN, APBD Provinsi DIY dan APBD Kabupaten Gunungkidul, serta bantuan dari pihak Jerman senilai 1,4 juta Euro, untuk Technical Assistance dan Consulting Services , Mesin Bor berdiameter 2,49 m, Turbine, dan pompa 4 unit.

Saat kunjungan berlangsung, peserta Bimtek didampingi oleh pemandu menyimak penjelasan tentang proses pembangunan dan operasional sumur Bribin II. Yang tak kalah menarik, peserta juga bisa secara langsung turun untuk melihat sungai bawah tanah sedalam 104 meter. Untuk turun ke dasar, peserta wajib didampingi oleh pemandu dari pengelola sumur Bribin II. Teknologi canggih yang telah dipasang di Bribin II memungkinkan peserta untuk turun menggunakan lift dengan kapasitas maksimal 8 orang. (-FNH).

IMG-20160803-WA0045

 

 

 

Sumber :

http://www.pu.go.id/main/view/5182

http://www.pu.go.id/main/view/1228