Pengenalan Masalah, Tantangan, Potensi dan Pengembangan Sumber Daya Pangan Pokok dan Pangan Lainnya

 

Seminar Puskapena & Kemendes PDTT Surabaya

Ir. Ambar Pertiwiningrum, M.Si., Ph.D. berkesempatan menjadi salah satu pembicara dalam Bimbingan Teknis Pengembangan Daerah Rawan Pangan pada Senin (1/8) di Yogyakarta. Bimtek terselenggara atas kerjasama Direktorat Rawan Pangan Kementerian Desa PDTT dengan Pusat Kajian Pembangunan Peternakan (Puskapena) UGM. Peserta Bimtek merupakan perwakilan SKPD daerah-daerah yang termasuk dalam list 52 daerah rawan pangan prioritas 1-3, diantaranya dari Kabupaten Sambas, Kepulauan Mentawai, dan lain-lain.

Sebagai Direktur Puskapena, Ir. Ambar Pertiwiningrum, M.Si., Ph.D. memperkenalkan “Pengenalan Masalah, Tantangan, Potensi dan Pengembangan Sumber Daya Pangan Pokok dan Pangan Lainnya” pada peserta Bimtek. Selama ini permasalahan dalam membangun kawasan tangguh pangan antara lain disebabkan karena banyak terjadi overlap program dan wilayah penanganan pangan dengan kementerian dan institusi lain; kurangnya lembaga pelatihan, investor, maupun swasta yang secara total mau bersinergi dalam program tangguh pangan; serta sistem informasi pangan yang masih lemah, baik mengenai produksi, konsumsi, distribusi & marketing, dsb.

Berangkat dari beberapa permasalahan tersebut, maka Ir. Ambar Pertiwingrum, M.Si., Ph.D memberikan gambaran rencana induk pengembangan ketangguhan pangan. Rencana induk melibatkan 4 pihak utama yakni Pemerintah Pusat & Daerah, Masyarakat/ Komunitas/ LSM, Perguruan Tinggi dan Dunia Industri. Rencana induk tersebut bersifat multi-years dengan beberapa tahapan di setiap tahunnya. Dimulai dari tahun 2015 dengan melakukan identifikasi potensi lokal, sumber daya alam, dan sumber daya manusia di daerah. Selanjutnya di tahun kedua dilakukan optimalisasi akses jejaring dan program yang sudah ada, serta menciptakan/ mensinergikan program-program tersebut. Tahun 2017 dilanjutkan dengan menciptakan program inisiatif baru yang belum ada dan berkesinambungan berbasis pemberdayaan potensi lokal. Di tahun 2018 menciptakan hilirisasi industri kreatif berbasis keanekaragaman pangan lokal dan pemberdayaan masyarakat. Tahun terakhir ditutup dengan upaya membuka pasar sebagai lumbung pangan.

Kunci dari implementasi sistem ketahanan pangan daerah adalah integrasi. Sistem pertanian dilakukan dengan Bio-cycles Farming dengan konsep KISS ME (Koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi, Sinergisitas, Monitoring, dan Evaluasi). Para peserta Bimtek juga diperkenalkan 6 M dalam pemberdayaan kawasan tangguh pangan. 6 M tersebut adalah money, materials, man, management, methods, dan machine. Apabila konsep 6 M dijalankan dengan baik, maka pertanian terpadu akan terlaksana dalam rangka membangun kawasan tangguh pangan. (nina)