Seminar Konsep, Model dan Implementasi dalam Pengembangan Kawasan Tangguh Pangan di Surabaya

 

Pusat Kajian Peternakan Nasional (Puskapena) UGM diundang oleh Kementerian Desa PDTT untuk menjadi narasumber dalam Seminar Konsep Model dan Implementasi dalam Pengembangan Kawasan Tangguh Pangan pada Kamis (27/7) di Hotel Alana Surabaya. Ir. Ambar Pertiwiningrum, M.Si., Ph.D. sebagai Direktur Puskapena UGM memberikan materi terkait model Konsep Model dan Implementasi dalam Pengembangan Kawasan Tangguh Pangan di hadapan SKPD berbagai daerah yang dikategorikan rawan pangan. Pengkategorian dan status tersebut ditetapkan oleh Food security and Vulnerability (FSVA) dan World Food Programme (WFP).

Pemberian materi mengenai Masterplan Kawasan Tangguh Pangan ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi para SKPD daerah untuk selanjutnya diaplikasikan di daerah masing-masing. Kondisi sosial ekonomi masyarakat di daerah SKPD setempat perlu diidentifikasi agar arah kebijakan tepat sasaran. Dalam pengembangan kawasan tangguh pangan, arah kebijakan bertujuan untuk mencapai 8 indikator yakni : Meningkatkan kualitas gizi balita dan ibu, meningkatkan kualitas dan kuantitas dan infrastruktur produksi pangan, intervensi konsumsi pangan lokal, meningkatkan akses air bersih rumah tangga, menciptakan instalasi air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, menjaga pola konsumsi pangan lokal, meningkatkan produksi padi, pengembangan fungsi koordinasi dan sinergi antar sektor.

Indonesia memiliki dasar hukum Undang-Undang Pemerintah No. 6 Tahun 2014 sebagai legal formal untuk mewujudkan kawasan tangguh pangan melalui desa industri mandiri dan desa sehat pangan. Sistem bio-cycles farming dengan 5A (Agro-produsi, Agro-teknologi, Agro-industri, Agro-bisnis, Agro-turis) menjadi model yang tepat untuk membangun kawasan tangguh pangan. Dalam kesempatan tersebut, Ir. Ambar Pertiwiningrum, M.Si., Ph.D. memperkenalkan konsep KISS ME (Koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi, Sinergisitas, Monitoring dan Evaluasi. Ia juga memberikan contoh model pengembangan kawasan tangguh pangan yang sebelumnya sudah diterapkan di Kabupaten Kupang serta Papua agar peserta lebih mudah memahami.

Dalam kesempatan tersebut, Drs. Supriadi, M.Si. selaku Direktur Pengembangan Daerah Rawan Pangan Kementerian Desa PDTT juga menyampaikan materi mengenai Pemetaan Sumber Daya dan Potensi Pengembangan Daerah Rawan Pangan. Pembangunan kedaulatan pangan menjadi salah satu program prioritas nasional. Berbagai kementerian dan lembaga nasional berpotensi untuk memberikan dukungan penuh terhadap program kedaulatan pangan. Pembangunan daerah tangguh pangan dilakukan secara sinergis melalui pendekatan kewilayahan. Model pengelolaan daerah rawan pangan secara terencana & terukur akan berdampak pada meningkatnya efektivitas dan efisiensi kinerja pembangunan  kawasan tangguh pangan, serta meningkatkan ketahanan daerah dan masyarakat dalam menghadapi kerawanan pangan dan kemiskinan.