Press Release Pembangunan Berkelanjutan Indonesia Diapresiasi Positif di Forum Internasional di Portugal

              Upaya  dan kinerja pembangunan berkelanjutan unggulan di Indonesia dinilai berhasil dan menyakinkan serta mendapat apresiasi positif di forum internasional  bergengsi, yang diikuti 43 negara seluruh dunia. Tim Tangguh Pangan Puskapena UGM dan Kementerian Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi kembali berkesempatan untuk mempresentasikan Masterplan Pengembangan Ketahanan Pangan di Indonesia pada acara 22nd International Sustainable Development Research Society Conference (ISDRS 2016) di Portugal, yang melibatkan ribuan peserta dari seluruh dunia. Tim penyaji dari UGM terdiri atas Ir. Ambar Pertiwiningrum, M.Si., Ph.D., Prof. Dr. Ir. Cahyono Agus DK, M.Agr.Sc. dan didampingi oleh Direktur Pengembangan Kawasan Rawan Pangan, Kemendes PDTT, Drs. Supriadi M.Si

              Rangkaian acara 22nd International Sustainable Development Research Society Conference (ISDRS 2016) diselenggarakan di School of Science and Technology, Universidade Nova de Lisboa, Lisbon, Portugal mulai tanggal 13-15 Juli 2016. Di tahun ini ISDRS berfokus pada strategi, kebijakan, praktek dan pendekatan yang berkelanjutan, serta meninjau ulang peran dan penerapanya dalam konteks sosial, budaya, dan ekonomi yang berbeda. Tema ISDRS 2016 secara khusus dikelompokkan menjadi 7, yakni ilmu pembangunan berkelanjutan, tekanan dan batas ekosistem, perubahan iklim dan energi, pemanfaatan tanah dan kota yang berkelanjutan, inovasi dan keberlanjutan perusahaan, masyarakat dan keberlanjutan, serta lembaga dan struktur pemerintahan untuk pembangunan berkelanjutan.

              Tim dari Fakultas Peternakan UGM, Fakultas Kehutanan UGM, dan Kemendes PDTT menyusun masterplan Pengembangan Ketahanan Pangan Melalui Sistem Pertanian Terpadu (Bio-Cycles) di Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Program pengembanganmasterplan untuk menuju kawasan tangguh pangan di regional Papua ini merupakan salah satu bagian dari program kerja sama antara UGM dan Kementerian Desa PDTT tahun 2015.

              Direktur Pengembangan Kawasan Rawan Pangan Kemendes PDTT, Drs Supriadi, MM. menjelaskan bahwa Rencana Induk Ketahanan Pangan (RIKP) merupakan sebuah dokumen perencanaan yang disusun untuk memberikan arah kebijakan dan arahan program dalam menangani daerah-daerah atau kawasan rawan pangan dalam kurun waktu 5 tahun (2015-2019).  

              Menurut Ambar Pertiwiningrum P.hD, berdasarkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Indonesia 2015 oleh Dewan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian serta World Food Programme, Kabupaten Manokwari merupakan daerah rawan pangan prioritas 2. Terdapat lima persoalan pokok kerawanan pangan Kabupaten Manokwari, yakni prevalensi balita stunting, rasio konsumsi normatif per kapita terhadap produksi bersih serelia,rumah tangga tanpa akses ke air bersih, dan keluarga miskin.

              Prof Dr. Cahyono Agus menjelaskan bahwa unggulan program pembangunan berkelanjutan di kawasan pedesaan sebagai kawasan tangguh pangan terpadu dari hulu ke hilir. Dengan membangun kawasan 9A (agro-produksi, agro-industri, agro-teknologi, agro-bisnis, agro-infrastruktur, agro-sarana, agro-wisata. Analisis permasalahan pokok di Kabupaten Manokwari selanjutnya melahirkan gagasan-gagasan dalam bentuk desain pembangunan kawasan tangguh pangan terpadu yang terdiri dari peningkatan kapasitas & ketrampilan tenaga kerja yang berwawasan lingkungan, serta penyempurnaan dan penerapan konsep pertanian terpadudengan memberdayakan sumber daya unggulan lokal, yang dilakukan dengan Konsep KISS ME (Koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi, Sinergisme, Monitoring dan Evaluasi).

Cahyono Agus
Professor, Faculty of Forestry UGM Jogjakarta