Oleh-oleh dari Perancis, Tim Formulasi Kurikulum SMK 4 Tahun Selenggarakan Workshop

Kunjungan tim Formulasi Kurikulum SMK 4 tahun ke Perancis pada bulan April 2016 lalu berlanjut pada diselenggarakannya Workshop SMK yang bertempat di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Workshop yang dilangsungkan pada tanggal 28 Juni 2016 dihadiri oleh perwakilan Kementerian Desa PDTT, Direktorat SMK, praktisi di bidang peternakan dan tenaga pengajar dari Fakultas Peternakan UGM serta Sekolah Vokasi UGM.

Materi pertama disampaikan oleh Drs. Supriadi, M.Si dari Direktorat Pengembangan Daerah Rawan pangan Kementerian Desa PDTT membahas mengenai isu-isu strategis yang ada di masyarakat Indonesia saat ini. Keprihatinan terhadap angka urbanisasi yang cukup tinggi di Indonesia disebabkan karena di masyarakat desa terutama kaum mudanya lebih tertarik untuk menjadi pekerja di kota. Oleh sebab itu, perbaikan kurikulum SMK Pertanian & Peternakan (SMK-PP) diharapkan dapat menjadi bagian dari sinergi pembangunan daerah tangguh pangan Indonesia.

Siswa SMK-PP sebagai inovator dengan keterampilan dapat membuka potensi baru untuk wirausaha yang kemudian dapatmenghasilkan pendapatan. Lokasi SMK yang berada di desa diharapkan memiliki lahan yang luasnya cukup memadai, bukan sekedar menjadi laboratorium semata namun juga dapat menjadi lahan pengembangan agribisnis bagi siswa.SMK-PP juga diharapkan memilikibussiness center sebagai tempat pengembangan serta display produk siswa dan guru. Supriyadi tak lupa menyinggung tentang pengembangan kurikulum serta aspek-aspek pendukung kualitas SMK antara lain peningkatan kapasitas guru, rekrutmen guru dari universitas pilihan, menghadirkan praktisi dari dunia usaha dan lembaga keuangan, serta fasilitas beasiswa bagi peserta didik.

Sesi kedua diisi oleh Ir. Priyanto sebagai perwakilan SMK, yang juga sekaligus merupakan Konsultan Direktorat Pembinaan SMK. Rancangan kurikulum SMK-PP disampaikan secara komprehensif meliputi durasi pendidikan selama 4 tahun dengan bidang keahlian Agribisnis dan Agroteknologi, program keahlian Agribisnis Tanaman, dengan paket keahlian Agribisnis Organik Ekologi. Ia melihat selama ini lulusan SMK bidang Pertanian dan Peternakan dipersiapkan untuk menjadi pekerja, bukan petani maupun wirausahawan di bidang pertanian. Penerimaan peserta didik dilaksanakan dengan sistem multi entry dan multi output.Mata pelajaran bersifat integrated learning/ holistik learning. Dengan adanya kurikulum baru SMK-PP selama 4 tahun ini, siswa lulusan SMK-PP dapat menjadi petani organik dan dapat menjalankan kegiatan agribisnis menjadi industri kreatif wisata agro. Ia juga berharap bahwa lulusan SMK-PP memiliki sertifikat profesi petani organik internasional dengan standar kompetensi lulusan yang berkualitas.

Tidak hanya dari pihak kementerian dan akademisi, Workshop SMK juga turut menghadirkan Cahya Yudi Widianto, ST. sebagai praktisi bidang pertanian. Ia banyak menyampaikan permasalahan-permasalahan serta fakta yang ia temui di lapangan. Banyak terdapat ketakutan-ketakutan dari pihak desa untuk meggunakan anggaran (dana desa) jika tidak ada di nomenklatur, sehingga dana desa tidak terserap secara efektif. Ia juga menyampaikan berbagai tips serta capaian-capaian yang telah ada untuk membuat dunia pertanian organik di desa lebih efektif dan efisien, namun dengan hasil yang lebih banyak.

Pembicara keempat yakni Dr.Ir.Sapto Husodo, MP. dari Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian. Ia memaparkan beberapa masalah SDM dan kelembagaan pertanian terutama yang dijumpainya secara langsung di STPP. Berkurangnya lembaga penyuluh pertanian secara tidak langsung mempengaruhi jumlah tenaga penyuluh pertanian dan menurunnya minat generasi muda untuk berkarir di bidang pertanian, baik menjadi penyuluh maupun petani. Faktanya, masyarakat desa kini juga banyak yang hanya menjadi buruh tani saja, bukan pemilik lahan. Ia menyampaikan bahwa pemerintah melalui Kementerian Pertanian memiliki program antara lain penumbuhan wirausaha muda pertanian, magang Jepang, standarisasi kompetensi lulusan, beasiswa anak petani berprestasi, serta pengembangan link-match di SMK-PP.

Sebagai penutupworkshop, Dr. Ir. Bambang Suhartanto, DEA. dari Fakultas Peternakan UGM memaparkan hasil kunjungan tim Formulasi Kurikulum SMK 4 tahun ke Perancis. Perbedaan mendasar sistem pertanian di Perancis dan Indonesia salah satunya adalah sistem waris tanah pertaniannya. Tanah pertanian di Perancis apabila penerus keluarganya tidak bertani maka tanah tersebut tidak boleh dibagi/ dipecah, namun boleh digabung atau ditambah dengan tanah di sampingnya. Pemerintah Perancis juga bertanggungjawab apabila terjadi kerugian yang dialami oleh petani organik. Sedangkan dalam hal pendidikannya, Departemen Pertanian dan Departemen Pendidikan Perancis masing-masing memiliki porsi sendiri, sekaligus memiliki porsi gabungan. Lulusan SMK (bacheloria)Perancis dapat melanjutkan di tahap superior 1 (setara D2/D3), dan hanya perlu melanjutkan selama 2 tahun untuk menjadi insinyur pertanian. Berdasarkan pengamatan sistem pendidikan pertanian di Perancis, tim merancang formulasi SMK-PP dengan melaksanakan job training 1 di tahun keempat. Siswa kemudian bisa melanjutkan job training 2 sembari berkuliah D3/ D4 ataupun setelah job training 2 bisa menjadi pengusaha tani tersertifikasi.

                Workshop SMK ditutup dengan sesi tanya jawab dan diskusi antar peserta workshop. Perwakilan dari Direktorat SMK, Drs. Mansyur Syah, M.M. mengapresiasi proses formulasi kurikulum SMK-PP yang sudah komprehensif membahas dari hulu-hilir, mulai dari kebijakan PBM, kurikulum, guru, PBM, praktek, penelitian sampai pemasarannya. Dalam diskusi muncul pula beberapa pertanyaan menarik yang sekaligus menjadi masukan bagi tim untuk menyempurnakan formulasi kurikulum. Dalam kesempatan tersebut beberapa hal masih perlu disempurnakan seperti belumdibahasnya mengenai intervensi teknologi mekanisasi otomasi tepat guna dan  mekatronika, juga HACCPdan K3 dalam setiap kegiatan praktek lapangan. Tantangan kedepannya bertambah dengan perlu disiapkannya sumber daya manusia dan pengelolaan SMK-PP.