Press Release Masterplan Tangguh Pangan Papua Diapresiasi pada Seminar di USA

Tim Tangguh Pangan UGM dan Kementrian Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI mendapat apresiasi positif pada seminar Internasional Humanitarian Technology: Science, Systems and Global Impact 2016 (HumTech 2016) di Boston USA pada tanggal 7-9 Juni 2016. Tim mempresentasikan masterplan dan program awal pengembangan Kawasan Tangguh Pangan di Papua. Penyaji dari UGM Yogyakarta terdiri atas Dr. Ambar Pertiwiningrum, Prof. Dr. Cahyono Agus dan didampingi oleh Direktur Pengembangan Kawasan Rawan Pangan Kemendes PDTT, Drs Supriyadi, MM.

HumTech merupakan agenda seminar internasional tahunanberbasis masyarakat yang dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari seluruh dunia diikuti lebih dari 200 peneliti, praktisi, industri, pembuat kebijakan, pemerintah dan pemimpin kunci. PesertaHumTech2016 berdiskusi, berbagi dan mempromosikan penelitian dan prestasi terkini di semua aspek teknologi, dari ilmu pengetahuan untuk sistem, yang memiliki dampak kemanusiaan global.Menampilkan banyak pengalaman dunia nyata dalam operasi kemanusiaan dan logistik, bantuan bencana, manajemen darurat, manajemen penyakit, inisiatif kesehatan global, pembangunan internasional, dan daerah lainnya.

Menurut Dr. Ambar Pertiwiningrum dari UGM, potensi Indonesia untuk melakukan kerjasama penganganan kawasan rawan pangan Indoensia dengan peserta seminar yang hadir, seperti IEEE, World Food Program dsb Menjadi terbuka luas.

Program pengembangan Masterplan untuk menuju kawasan tangguh pangan di regional Papua merupakan salah satu bagian program kerjasama antara UGM dan Kemendes PDTT pada tahun 2015. Berdasarkan pemetaan tersebut 37% balita mengalami kondisistunting, ¾ wilayah kabupaten mengalami surplus serealia, kemiskinan telah berkurang tetapi masih tinggi di Indonesia, dan 34% rumah tangga tidak memiliki akses terhadap air bersih. “Program penanganan kerawanan pangan diharapkan mampu memperbaiki kawasan prioritas yang tercantum dalam  Peta Ketahanan dan Kerawanan Pangan Indonesia yang diterbitkan oleh Dewan Ketahanan Pangan dan World Food Program, pada tahun 2015” ujar Prof. Dr. Cahyono Agus.

Direktur Pengembangan Kawasan Rawan Pangan Kemendes PDTT, Drs Supriyadi, MM menjelaskan bahwa Rencana Induk Ketahanan Pangan (RIKP) merupakan sebuah dokumen perencanaan yang disusun untuk memberikan arah kebijakan dan arahan program dalam menangani daerah-daerah atau kawasan rawan pangan dalam kurun waktu 5 tahun (2015-2019).  Tim mekomendasikan perbaikanlima persoalan pokok terkait dengan kerawanan pangan di regional Papua, yaitu prevalensi balita stunting, rasio konsumsi normatif per kapita terhadap produksi bersih serelia, rumah tangga tanpa akses ke air bersih, dan keluarga miskin.